Ada angin segar apa hari ini, Steam rilis data daya beli gamer di Indonesia yang mungkin saja dapat memberitahu publisher game kalau orang Indonesia itu kadang jarang beli game karena terlalu mahal. Di ekonomi yang seperti ini apakah seorang gamer mampu membeli game yang baru rilis? Tentu saja tidak!
Valve telah merilis Alat Penetapan Harga Steam dan terdapat negara kita tercinta Indonesia yang menunjukan rata-rata beli hanya sepertiga dari harga game di pasar global. artinya sebuah game yang dijual seharga $60 di pasar dunia, secara daya beli setara dengan beban ekonomi tiga kali lipat lebih berat bagi sebagian besar gamer Indonesia. dibagian pricing table juga terdapat negara lain seperti Malaysia, Filipina, dan masih banyak juga negara lainnya.
Dari sudut pandang kami menyatakan bahwa kalau pihak Steam terus menjaga loyalitas kepada kostumernya dengan membuat tablet tersebut agar para developer game dan publisher tau kapasitas dompet para gamer yang ada di negara asia, terlebih lagi ketika game baru dengan genre AAA yang pastinya sangat mahal pada awal rilisnya.
Biasanya kebanyakan gamer yang kurang minat untuk membeli game, mereka justru beralih ke jalur yang lebih kesamping seperti mendownload gamenya di website bajakan, ataupun membeli game hasil inject di E-Commerce yang tentunya jauh lebih murah.
Tren ini selaras dengan data global dari GameDiscoverCo yang menunjukkan bahwa pemain Steam secara umum kini lebih menyukai game berharga rendah di kisaran $5–$15. Harga median game terlaris di Steam bahkan turun sebesar 20 persen dari $19,50 menjadi $15,64 antara awal 2023 hingga Oktober 2025.
Balik lagi para gamer saat ini sangat kesusahan dalam membeli game terlebih lagi dengan harganya yang sangat mahal, tentunya di ekonomi yang seperti ini para gamer mencari hiburan lewat game yang murah, bahkan menunggu diskon tertentu dari Steam. dan semoga saja Pricing tools terbaru dari Steam dapat membuka lebar mata para dev dan publisher agar menjual game jauh lebih murah, yang tentu saja gamer Indonesia juga jauh lebih banyak karena mengikuti perkembangan teknologi yang semakin canggih pastinya.
PakarPBN
A Private Blog Network (PBN) is a collection of websites that are controlled by a single individual or organization and used primarily to build backlinks to a “money site” in order to influence its ranking in search engines such as Google. The core idea behind a PBN is based on the importance of backlinks in Google’s ranking algorithm. Since Google views backlinks as signals of authority and trust, some website owners attempt to artificially create these signals through a controlled network of sites.
In a typical PBN setup, the owner acquires expired or aged domains that already have existing authority, backlinks, and history. These domains are rebuilt with new content and hosted separately, often using different IP addresses, hosting providers, themes, and ownership details to make them appear unrelated. Within the content published on these sites, links are strategically placed that point to the main website the owner wants to rank higher. By doing this, the owner attempts to pass link equity (also known as “link juice”) from the PBN sites to the target website.
The purpose of a PBN is to give the impression that the target website is naturally earning links from multiple independent sources. If done effectively, this can temporarily improve keyword rankings, increase organic visibility, and drive more traffic from search results.